Business

Breaking News
recent

Bonus Demografi untuk “Merajai” MEA


Indonesia telah memasuki zona Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).  Remaja yang hidup saat ini, 15 tahun yang akan datang akan memasuki periode yang disebut dengan windows of opportunity-nya bonus demografi, yaitu suatu kondisi dimana terjadi angka kebergantungan paling rendah usia tidak produktif kepada usia produktif. Hal ini hanya akan terjadi satu kali dalam sejarah suatu negara.
Usia produktif haruslah memiliki kualitas agar dapat bersaing di pasar global. Melihat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) saat ini, setidaknya kita bisa mengetahui bagaimana kualitas bangsa kita saat ini. Berdasarkan IPM tahun 2014, Indonesia berada di peringkat 108 dari 187 negara. Sementara Singapore, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand yang notabene tergabung bersama Indonesia dalam MEA, berada jauh di atas Indonesia. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, peningkatan kualitas penduduk adalah hal wajib yang harus dilakukan oleh Indonesia. Para pemegang kebijakan Indonesia tentu saja tidak dapat bekerja sendiri. Harus ada kerjasama antara pemerintah dan instansi terkait agar program yang dibuat dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
 
Meningkatan kualitas penduduk dapat dilakukan dengan membangun dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang memadai di Indonesia. Mengingat 15 tahun lagi akan sampai pada periode windows of opportunity-nya bonus demografi, pembenahan pada sektor pendidikan dan lapangan pekerjaan adalah hal yang tepat dilakukan. Pada sektor pendidikan dapat dilakukan dengan cara mewajibkan setiap perguruan tinggi memiliki tenaga pengajar/dosen yang cukup sesuai dengan jumlah mahasiswanya. Dengan kata lain, jumlah dosen dalam suatu fakultas/jurusan harus seimbang dengan jumlah mahasiswa yang ada. Selain itu, dosen tersebut haruslah memiliki lisensi dan minimal mengenyam pendidikan S2. Tidak seperti saat ini, seperti “jeruk makan jeruk”. Misalkan saja, dosen ilmu keperawatan yang hanya memiliki ijazah S1, mengajar mahasiswa keperawatan S1.
Penyediaan beasiswa yang merata juga perlu dilakukan. Hal ini agar siswa berprestasi yang kurang mampu dalam material, dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, misalnya ke perguruan tinggi . Beasiswa tentu saja tidak selalu dari pemerintah, melainkan juga melalui perusahaan-perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Sekali lagi, para pemegang kebijakan Indonesia tidak bisa bekerja sendiri, melainkan harus ada kerjasama antara pemerintah dan instansi terkait.
Masih dari sektor pendidikan, mahasiswa juga harus dilibatkan dalam berkegiatan. Contoh, dimasukkan ke dalam kepanitiaan sebuah acara besar yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintahan seperti Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) ataupun Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dengan cara ini, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang sangat berguna di dunia kerja nantinya.
Pada sektor lapangan pekerjaan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker) harus merekomendasikan setiap lapangan pekerjaan untuk melakukan seminar dan workshop secara rutin untuk pekerja/karyawannya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas individu agar memiliki hard skill maupun soft skill yang dapat bersaing di pasar global dan bekerja sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
Dengan ledakan jumlah penduduk usia produktif yang berkualitas, Indonesia akan menjadi “raja” di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Go international akan menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Indonesia.

*RA
JAVARIA DESIGN

JAVARIA DESIGN

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.